Banda Aceh (ANTARA News) - Provinsi Aceh menjadi pelopor program
Eco-Pesantren yang diharapkan dapat mengampanyekan pengelolaan
lingkungan sehat dan bersih serta upaya pelestarian kawasan hutan guna
mengurangi risiko bencana alam dimasa mendatang.


"Bersama Kementerian Lingkungan Hidup RI, maka kami mencoba
memulainya dari Aceh dan jika program ini baik maka dapat kita usulkan
berjalan di seluruh tanah air," kata Ketua Komisi VII DPR RI Teuku
Riefky Harsa di Banda Aceh, Minggu.


Tahap awal sebanyak 90 santri dari enam pondok pesantren di Aceh,
mendapat pelatihan pemanfaatan limbah atau sampah organik menjadi produk
yang memiliki nilai manfaat dan ekonomis. "Pelatihan ini merupakan
implementasi dari program Eco-Pesantren," katanya.


Program Eco-Pesantren itu dilaksanakan Yayasan Pusat Persatuan
Kebudayaan Islam Indonesia Aceh bekerja sama dengan Yayasan KUMALA
Jakarta dan Kementerian Lingkungan Hidup.


"Yang menjadi harapan kita agar mereka yang telah memperoleh
pelatihan pemanfaatan limbah itu dapat menularkan ilmunya kepada santri
di ponpes lain di Aceh," katanya.


Enam ponpes (dayah) mendapat kesempatan pertama dalam program
Eco-Pesantren, masing-masing Ruhul Fatayat Seulimum dan Asrama Siswa
UICCI di Aceh Besar, Ponpes Fhatimah Lampoh Saka, LPI Dayah Hidayatul
Ummah Al-Aziziyah, LPI Irsadul Al-Aziziyah di Pidie, dan Yayasan
Pendidikan Islam Darul Munawarah di Pidie Jaya.


"Pemerintah juga memberikan mesin atau alat pendukung pemanfaatan
limbah kepada ponpes selain pelatihan bagi santrinya. Kami akan terus
memonitor agar alat yang diberikan tidak jadi rongsokan tapi terus
difungsikan," kata Teuku Riefky.


Program Eco-Pesantren itu secara simbolis diresmikan Menteri
Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta di Ponpes Ruhul Fatayat Seulimum,
Aceh Besar.
(A042)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2011