PDIP Kalah di Bali, Menang Sementara di Jawa Tengah - 27 May 2013 - Berita Terbaru
Main
 
BUDI SANTOSOSaturday, 03.12.2016, 4:40:01 PM



Welcome Guest | RSS
Main
Site menu

Section categories
BERITA SERBA SERBI
BERITA UMUM
BERITA UNIK,LUCU DAN ANEH
BERITA YANG UNIK DAN YANG ANEH
EKONOMI DAN BISNIS
EKONOMI DAN BISNIS
BERITA POLITIK, HUKUM DAN KRIMINAL
BERITA POLITIK, HUKUM DAN KRIMINAL
SOSIAL DAN KEMASYARAKATAN
BERITA SOSIAL DAN KEMASYARAKATAN
MP3
Kumpulan MP3
SENI DAN BUDAYA
SENI DAN BUDAYA
GAME
KATA - KATA MUTIARA
FILM
PUISI DAN PANTUN

DETIK

Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

Main » 2013 » May » 27 » PDIP Kalah di Bali, Menang Sementara di Jawa Tengah
10:19:16 AM
PDIP Kalah di Bali, Menang Sementara di Jawa Tengah

http://media.viva.co.id/thumbs2/2013/02/06/191169_anak-agung-ngurah-puspayoga-dan-dewa-nyoman-sukrawan_151_86.jpg

VIVAnews - Suasana rapat pleno penetapan hasil
rekapitulasi suara Pemilihan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur
Bali yang digelar di kantor KPUD Provinsi Bali, Jalan Tjok Agung Tresna,
Renon, Denpasar, Minggu 26 Mei 2013, berlangsung panas. Saksi pasangan
nomor urut 1, Arteria Dahlan, terlibat ketegangan saat proses
rekapitulasi suara dilakukan. 



Ketegangan itu bermula dari luar ruang rapat pleno, di mana
sejumlah simpatisan PDIP membawa sembilan bok kontainer berisi
kecurangan. Sembilan kontainer itu dibawa simpatisan dari kantor DPD
PDIP ke kantor KPUD Bali. Mereka menduga ada kecurangan dalam
pelaksanaan pemungutan suara.



Puncak ketegangan itu terjadi saat saksi pasangan yang diusung
PDIP, Arteria, menghampiri kursi Ketua KPUD Bali, Ketut Sukawati Lanang
Putra Perbawa, dan membeberkan kecurangan terhadap kandidat yang diusung
partainya di Kabupaten Buleleng. Dia mendesak untuk dilakukan
penghitungan ulang suara berbasis pada formulir C1.



Tak terima dengan sikap Arteria, saksi pasangan nomor urut 2, Gde
Sumarjaya Linggih memprotes sikap Arteria. "Mohon jika ingin menunjukkan
keberatan tetap di kursi, jangan maju ke depan, ke podium," kata
Linggih. Pernyataan itu rupanya tak dihiraukan Arteria. Linggih yang
merupakan politisi Partai Golkar itu meminta kepada Ketua KPU untuk
memaksa Arteria kembali ke tempat duduknya.



Ketua KPUD Lanang Putra Perbawa pun merespon, dia meminta saksi
nomor 1 untuk kembali duduk di kursi yang telah disediakan. "Saya
peringatkan agar saksi nomor 1 duduk," tegas Lanang. Teguran Lanang juga
tak digubris, Arteria tetap mengajukan protes sambil berdiri. Sampai
akhirnya Lanang memerintahkan aparat keamanan untuk menggiring saksi
nomor urut 1 ke luar arena pleno. 



"Anda sudah melanggar tata tertib. Mohon aparat keamanan bawa ke luar saksi nomor 1. Ke luar Anda!" ucap Lanang.



Ketegangan mereda, Arteria, kembali ke tempat duduk. Meski PDIP
sempat memprotes agar pleno ditunda, namun penetapan pemenang hasil
rekapitulasi suara Pilgub Bali pada 15 Mei lalu tetap dilaksanakan.



Hasilnya, pasangan no urut 2, Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta
(Pasti-Kerta), dinasbihkan sebagai pemenang. Pasangan nitu diusung
koalisi partai Golkar-Demokrat dan tujuh partai lainnya.



Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta mengungguli kandidat nomor urut
1, Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan (PAS), dengan
selisih 996 suara. Puspayoga-Sukrawan yang diusung PDIP memperoleh
sebanyak 1.062.738 suara. Sementara Pastika-Sudikerta meraup 1.063.734
suara.



Penentapan hasil rekapitusali KPUD Bali itu ditolak PDIP. Wakil
Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristianto, mengatakan, hasil pleno KPU tidak
sesuai dengan dokumen C1. Dalam dokumen C1 kata dia, kandidat yang
diusung partainya, Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan
(PAS) mengungguli Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta (Pasti-Kerta).



"Berdasarkan pasal 25 ayat 5 dan 6 Peraturan KPU Nomor 16 Tahun
2010 tentang Tata Cara Rekapitulasi, seharusnya keberatan kami langsung
dikoreksi seketika, secara langsung. Tapi hal itu tidak dilakukan, meski
kami sudah tunjukkan bukti otentik," kata Hasto di Kantor DPD PDIP,
Jalan Moncong Putih, Renon, Denpasar.



Menurut dia, terjadi kekeliruan rekapitulasi suara masing-masing
kandidat. Hal itu berdasarkan dokumen C1 yang didapat dari penyelenggara
KPU dari semua TPS se-Bali. Hasto masih berharap KPUD Bali membuka
ruang untuk membuka kembali dokumen C1. "Dengan niat baik, dengan
cara-cara yang baik. Ada 9 kontainer dokumen, sudah 4 kali dicek,
pasangan Puspayoga-Sukrawan masih unggul," kata dia.



Namun, Ketua KPUD Bali, Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa,
menegaskan tidak ada perubahan suara pada pleno Pilgub Bali yang digelar
hari ini. KPUD Bali telah mengacu pada rapat pleno yang telah
ditetapkan oleh tingkatan di bawahnya. 



"Suara tetap tidak berubah. Silakan saja mereka keberatan. Itu hak
nomor 1. Tapi mekanisme sudah berjalan mulai dari TPS, desa, kecamatan
hingga kabupaten," kata Lanang



Sementara soal keinginan tim kandidat nomor 1 yang meminta KPUD
menunda rapat pleno tidak bisa dipenuhi. Sebab seluruh tahapan Pilgub
Bali sudah ditetapkan jauh hari. "Yang jelas kami merekapitulasi hasil
suara dari seluruh kabupaten/kota. Suara sudah tidak bisa berubah, kan
sudah ditetapkan," tegas Lanang



Unggul di Jawa Tengah 



Cerita sebaliknya datang dari Jawa Tengah. Pasangan Ganjar Pranowo
dan Heru Sudjatmoko yang diusung PDIP unggul sementara dalam pemilihan
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah. Pasangan nomor urut 3 itu
menang dalam hitung cepat (quick count) Lingkaran Survei Indonesia
(LSI) bekerjasama dengan tvOne di Pilkada Jawa Tengah, Minggu 26 Mei
2013.



Dari total 98,25 persen jumlah suara masuk, pasangan yang diusung PDI Perjuangan itu memperoleh 49,35 persen suara.



Pasangan nomor urut 2, Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo, yang
diusung Golkar, Demokrat dan PAN, berada di posisi kedua dengan
perolehan suara 30,09 persen. 



Sementara, pasangan nomor urut 1, Hadi Prabowo-Don Murdono, berada
di posisi buncit. Pasangan yang diusung PKS, Gerindra, PPP, Hanura, PKB
dan PKNU, memperoleh 20,56 persen suara.



Tak berbeda dengan hasil Lingkaran Survei Indonesia, hasil hitung
cepat oleh beberapa lembaga survei lainnya juga menempatkan Ganjar-Heru
di posisi teratas.



Hitung cepat lembaga Indobarometer bekerjasama dengan Metro TV,
dari 97 persen suara yang masuk, Ganjar-Heru memperoleh 46,88 persen,
Bibit-Sudijono 31,77 persen dan Hadi Prabowo-Don Murdono 21,34 persen.



Survei Saiful Mujani Research & Consulting-SCTV, dari total 100
persen suara yang masuk, pasangan Ganjar-Heru memperoleh 49,93 persen,
Bibit Waluyo-Sudijono 30,15 persen dan Hadi Prabowo-Don Murdono 19,92
persen.



Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah
sebanyak 27.385.985 pemilih. Pemilih perempuan mencapai 13.774.665 orang
dan laki-laki sebanyak 13.611.320 orang. Jumlah TPS ada 61.951



Beda Figur



Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Iberamsjah, menilai,
kekalahan PDIP di Bali dan kemenangan di Jawa Tengah merupakan dua
kasus yang berbeda, meskipun dua daerah itu sama-sama merupakan basis
massa PDIP. Menurutnya kemenangan dan kekalahan PDIP dalam dua
Pemilukada itu terletak pada figur.

"Kalau dalam pemilihan ini sebenarnya terletak pada figur," ujar Iberamsjah kepada VIVAnews.



Dia menganggap, figur calon yang diusung PDIP dalam Pemilukada Bali
yakni Puspayoga-Sukrawan dianggap masih di bawah seterunya, yaitu
Pastika-Sudikerta. Pasangan Pastika-Sudikerta merupakan figur yang
populer di Bali. Apalagi Mangku Pastika adalah calon incumbent. "Bisa dibilang susah mengalahkan Mangku Prastika meski Puspayoga-Sukrawan didukung PDIP," terangnya.



Sementara untuk Pemilukada Jawa Tengah, Iberamsjah menilai, sosok
Ganjar Pranowo, calon Gubernur Jawa Tengah yang didukung PDIP merupakan
calon muda, enerjik dan figur yang dapat menjanjikan adanya perubahan
bagi masyarakat Jawa Tengah. Tak heran jika dalam versi hitung cepat,
Ganjar mampu mengalahkan calon incumbent, Bibit Waluyo.



"Nah Bibit tidak bisa menggunakan keunggulannya sebagai incumbent. Itu kurangnya dia (Bibit). Ganjar lebih karismatik dan lebih muda," ujar Iberamsjah.



Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Ardian Sopa, mengatakan
ada beberapa kunci kesuksesan Ganjar Pranowo di pemilihan Gubernur Jawa
Tengah. Pertama, masyarakat Jawa Tengah melihat Ganjar Pranowo sebagai tokoh yang bisa membawa perubahan ke arah lebih baik bagi Jawa Tengah.



"Kemenangan Ganjar Pranowo di Quick Count itu disebabkan
karena dia bisa memposisikan diri sebagai tokoh yang bisa membawa
perubahan untuk Jawa Tengah," kata kata Ardian Sopa di kantor LSI,
Jakarta.



Kedua, Ganjar Pranowo,  mendapat dukungan yang solid dari
Partai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Itu dapat dilihat dari
instruksi Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Ia mengatakan daerah
lain boleh kalah, tapi Jawa Tengah adalah bumi Marhaenisme dan harus
menang.



Sementara calon incumbent Bibit Waluyo yang dalam pilkada
sebelumnya didukung PDIP dengan semua prestasinya, ternyata tidak
berhasil meyakinkan publik Jawa Tengah. Ia tidak bisa meyakinkan
masyarakat, jika terpilih lagi akan membuat Jawa Tengah menjadi lebih
baik lagi.



Ardian Sopa juga menyampaikan, kesuksesan PDI Perjuangan dalam
pemilihan gubernur di beberapa daerah menjadi sangat menarik. Misalnya
di Jakarta berhasil memenangkan Jokowi. Kemudian di Bali, meskipun kalah selisihnya sangat tipis.

"PDIP mampu memobilisasi pendukung-pendukungnya untuk memenangkan salah satu calonnya," kata Ardian Sopa.



Faktor-faktor itu yang membuat Ganjar Pranowo bisa dipercaya oleh
masyarakat untuk memimpin Jawa Tengah selama lima tahun ke depan.
Category: BERITA POLITIK, HUKUM DAN KRIMINAL | Views: 928 | Added by: budi | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Login form

KOMENTAR

OLAHRAGA

PENGUNJUNG

Calendar
«  May 2013  »
SuMoTuWeThFrSa
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031

Entries archive

BERITA TERKINI


Copyright MyCorp © 2016